TULUS DALAM MENASIHATI

Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah menyatakan,

إنّ الناصح لا يُعاديك إذا لم تقبلْ نصيحته، وقال: قد وقع أجري على الله -قبلتَ أو لم تَقْبَلْ- ويدعو لك بظهر الغيب، ولا يذكُر عيوبَك، ولا يُبَيّنُها للناس.
والمؤنَبُ ضد ذلك

“Seorang yang betul-betul tulus dalam memberikan nasihat tidak akan pernah memusuhimu di saat kamu menolak nasihatnya.
Bahkan dia hanya mengatakan, ‘Telah tetap pahala untukku dari sisi Allah; baik kau menerima nasihatku maupun tidak.’

Lantas dia akan mendoakanmu saat kamu tidak tahu, tidak menyebutkan dan menyebarkan aib-aibmu ke tengah-tengah manusia. Sedangkan pencela, sikapnya bertentangan dengan ini semua.” (Ar Ruh, hlm. 233)

Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari penjelasan Imam Ibnul Qayyim rahimahullah & di atas, berikut kita sebutkan di antaranya,

  • Seorang yang memang ikhlas dalam memberikan nasihat tidak akan kecewa saat nasihatnya ditolak. Bahkan dia terus bersemangat dalam memberikan nasihat agar kebenaran yang disuarakannya bisa kemudian diamalkan oleh kawannya.

    Kesedihan dia bukan karena nasihatnya ditolak; namun karena kawannya yang enggan mengamalkan kebenaran.
  • Bimbingan bagi tiap-tiap pemberi nasihat untuk berhias diri dengan sifat pemberi nasihat yang disebutkan Ibnul Qayyim rahimahullah.
  • Berbeda antara orang yang ingin menjatuhkan kita dengan orang yang betul-betul ikhlas dalam memberi nasihat. Meski secara tindakan sama. Namun perbedaan sebagaimana diuraikan di atas.


    Ustadz Hari Ahadi حفظه الله

“Tetap hadir di majelis ilmu syar’i (tempat pengajian) untuk meraih pahala dan berkah lebih banyak dan lebih besar, insyaallah.”

Ayo Join dan Share:

Faedah:
telegram.me/Riyadhus_Salafiyyin
Poster dan Video:
telegram.me/galerifaedah
Kunjungi Website Kami:
www.riyadhussalafiyyin.com

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Didukung oleh: Islamhariini.com