HUKUM MENGAMBIL KEMBALI PEMBERIAN

بسم الله الرحمن الرحيم.

Saudaraku yang mulia.
Termasuk larangan dalam agama Islam yang mulia ini adalah seseorang mengambil kembali suatu pemberiannya yang telah diberikan kepada seseorang, hal ini baik itu dalam bentuk:
1- Sedekah.√
2- Infak.√
3- Zakat.√
4- Hadiah.√
5- Hibah, dll.√

Saudaraku yang mulia.
Bahkan sampai-sampai baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat perumpamaan hal ini dengan seakan-akan:
(-) Seseorang memakan kembali dari apa-apa yang telah dia muntahkan, atau juga…
(-) Seperti seekor anjing yang memakan muntahnya kembali.

Na’uudzu billaah.

Saudaraku yang mulia.
Sebagaimana dalam riwayat yang sahih disebutkan, bahwa:

عن ابن عبّاس رضي الله عنهما أنّ رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (( الَّذِى يَعُودُ فِي هِبَتِهِ كَالكَلْبِ يَرْجِعُ فِي قَيْئِهِ )).
[[ متفق عليه ]].

وفي رواية: (( مَثَلُ الَّذِى يَرْجِعُ فِي صَدَقَتِهِ ، كَمَثَلِ الكَلْبِ يَقِىءُ، ثُمَّ يَعُودُ فِي قَيْئِهِ فَيَأْكُلُهُ )).

وفي رواية: (( العَائِدُ فِي هِبَتِهِ كَالعَائِدِ فِي قَيْئِهِ )).

Dari sahabat yang mulia Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwasanya baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Orang yang mengambil kembali suatu pemberiannya, seperti seekor anjing yang memakan muntahnya kembali.” (Muttafaqun ‘alaih)

Dalam suatu riwayat disebutkan, bahwa:
“Perumpamaan orang yang mengambil kembali sedekahnya; seakan-akan seperti seekor anjing yang muntah, menjilati muntahnya kembali kemudian memakannya.”

Juga dalam riwayat disebutkan:

“Orang yang mengambil kembali hibahnya (suatu pemberian secara cuma-cuma), seperti orang yang memakan kembali muntahnya.”

FAEDAH HADIS

Di antara sekian faedah yang bisa kita petik pada kesempatan ini dari riwayat di atas adalah:

1- Mengambil kembali suatu pemberian yang kecil ataupun yang besar hukumnya adalah makruh (sesuatu yang dibenci dalam agama).

Sebagaimana al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata dalam memberikan bab terhadap riwayat ini bahwa:

” باب كراهة عودة الإنسان في هبة لم يسلمها إلى الموهوب له … “

“Bab, yang menerangkan tentang makruhnya (hal yang dibenci dalam agama), seseorang mengambil kembali suatu pemberiannya, yang ia tidak merelakan pemberiannya (yang telah ia berikan) kepada orang yang ia beri sesuatu untuknya….”

2- Perbuatan ini adalah perbuatan yang rendahan, hina, dan menjijikan; sampai-sampai baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat permisalan dengan seekor anjing yang memakan kembali muntahnya.

Fadhilatusy-Syaikh al-Faqih Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:

(( لا يحل لك أن ترجع فيه، سواء كان قليلا أم كثيرا، لأن النّبي صلى الله عليه وسلم شبه العائد في هبته بالكلب ، الكلب يقىء ما في بطنه ثم يعود فيأكله وهذا تشبيه قبيح … )).

“Tidak boleh bagi anda mengambil kembali sesuatu yang ada padanya, baik itu dalam jumlah yang sedikit atau dalam jumlah yang besar, karena baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerupakan orang yang mengambil kembali pemberiannya dengan seekor anjing.”

“Sebagaimana Anjing memuntahkan segala apa-apa yang ada dalam isi perutnya, kemudian dia menghampirinya dan memakannya.”

3- Makna: Muttafaqun ‘alaih/HR. al-Bukhari, no. 2621 dan Muslim no. 1622.

HAL YANG PERLU DIKETAHUI

4- Kecuali bagi orang tua, boleh baginya untuk mengambil kembali apa-apa yang telah diberikan kepada anaknya, karena anak adalah hak dan tanggung jawab orang tua untuk bisa memilah dan memilih mana yang terbaik, yang bisa bermanfaat untuk anaknya, namun kalau sebaliknya, maka hal ini tidak boleh.

Sebagaimana fadhilatusy-Syaikh al-Faqih Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:

(( كرجل غنى له أب فقير، فهبه بيتا، فإنه لا يجوز له أن يرجع في الهبة ولو كان أباه، أما العكس ، … فلا بأس أن يرجع فيه، لقول النّبي صلى الله عليه وسلم: ” لا يحل لواهب أن يرجع فيما وهب إلا الوالد فيما يعطى ولده ” لأن الوالد له الحق … ))

“Contoh, seperti seorang anak yang kaya memiliki ayah yang fakir, miskin, maka ia beri kepada ayahnya sebuah rumah, maka (hukum) bagi seorang anak; baginya ia tidak boleh untuk mengambil kembali pemberiannya, walupun itu adalah kedua orang tuanya sendiri.”

“Adapun kalau kebalikannya, maka tidak mengapa (bagi orang tua) untuk mengambil kembali (apa-apa yang telah diberikan kepada anaknya).”

Sebagaimana baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak boleh bagi orang yang memberikan sesuatu (kepada seseorang) untuk mengambil kembali dari apa-apa yang telah diberikan, kecuali kedua orang tua yang mengambil kembali apa-apa yang telah diberikan kepada anaknya.” (Al-Hadits).

(Kenapa demikian? ,-pen.)

Berkata rahimahullah:

“Karena kedua orang tua memiliki hak (terhadap anaknya….).”

Referensi: Syarh Riyadhish Shalihin, jilid 4, hlm. 290-291.

والحمد لله ربّ العٰلمين.

🖋 Oleh: al-Ustadz Abu Aufa Isma’il حفظه الله

Baca juga:  DIDIKLAH DIRI KALIAN UNTUK BERSIKAP TAWADHU, JUJUR DAN MENERIMA KEBENARAN

“Tetap hadir di majelis ilmu syar’i (tempat pengajian) untuk meraih pahala dan berkah lebih banyak dan lebih besar, insyaallah.”

Ayo Join dan Share:

Faedah:
telegram.me/Riyadhus_Salafiyyin
Poster dan Video:
telegram.me/galerifaedah
Kunjungi Website Kami:
www.riyadhussalafiyyin.comSelengkapnya

Tinggalkan komentar