HAKIKAT TAWAKAL

Al-Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata,

“Inti dan hakikat tawakal adalah bersandarnya hati kepada Allah semata,

maka bersinggungan dengan berbagai sebab tidak akan memudaratkan tawakal tersebut, asalkan hatinya terbebas dari bersandar dan bergantung kepada sebab-sebab tersebut.

Sebagaimana tidaklah bermanfaat baginya ucapannya, ‘Aku bertawakal kepada Allah,’ disertai dengan bersandarnya dia kepada selain-Nya, condong, dan yakin terhadap selain-Nya.

Sehingga, tawakal lisan dan tawakal hati adalah dua hal yang berbeda.
Sebagaimana tobatnya lisan yang disertai dengan terus-menerusnya hati (dalam kemaksiatan), serta tobatnya hati meskipun tanpa ungkapan lisan, adalah sesuatu yang berbeda.

Maka ucapan seorang hamba, ‘Aku bertawakal kepada Allah,’ sementara hatinya bersandar kepada selain-Nya adalah semisal dengan ucapannya, ‘Aku bertobat kepada Allah,’ sementara dia terus-menerus di atas kemaksiatan dan melakukannya.”

[Al-Fawaid, hlm. 99]


وسر التوكل وحقيقته هو اعتماد القلب على الله وحده،
فلا يضره مباشرة الأسباب مع خلو القلب من الاعتماد عليها والركون إليها،
كما لا ينفعه قوله: توكلت على الله، مع اعتماده على غيره وركونه إليه وثقته به، فتوكل اللسان شيء وتوكل القلب شيء،
كما أن توبة اللسان مع إصرار القلب شيء، وتوبة القلب وإن لم ينطق اللسان شيء.
فقول العبد: توكلت على الله، مع اعتماد قلبه على غيره، مثل قوله: تبت إلى الله، وهو مصر على معصيته مرتكب لها.

الفوائد، ص : ٩٩


(Oleh: Ustadz Muhammad Rofi حفظه الله)

“Tetap hadir di majelis ilmu syar’i (tempat pengajian) untuk meraih pahala dan berkah lebih banyak dan lebih besar, insyaallah.”

Ayo Join dan Share:

Faedah:
telegram.me/Riyadhus_Salafiyyin
Poster dan Video:
telegram.me/galerifaedah
Kunjungi Website Kami:
www.riyadhussalafiyyin.com

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Didukung oleh: Islamhariini.com