FAEDAH MENCUCI KEDUA TANGAN KETIKA BANGUN TIDUR

Dalam hal ini, terdapat hadis dari nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إذا استيقظ أحدكم من نومه فلا يغمس يده في الإناء حتى يغسلها ثلاثا فإنه لا يدري أين باتت يده.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian bangun dari tidurnya, maka janganlah dia memasukkan tangannya ke dalam bejana sampai dia mencucinya sebanyak tiga kali. Dikarenakan dia tidak mengetahui di mana tangannya bermalam.” (H.R. Al-Bukhari, no. 162 dan Muslim, no 278; dengan lafaz dari Muslim)

Para ulama berbeda pendapat tentang hukumnya. Mayoritas ulama berpendapat bahwa hukumnya itu sunah. Dan pendapat yang masyhur dari Al-Imam Ahmad bahwa hukumnya itu wajib. Dan pendapat yang terakhir inilah yang rajih (kuat) karena terdapat perintah dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Hukum asal dalam perintah adalah wajib. Sedangkan di dalam hadis diatas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang untuk memasukkan tangannya ke dalam bejana sampai dia mencucinya sebanyak tiga kali. Di dalam kaidah ushul fiqh disebutkan:

النَّهْيُ عَنْ شَيْء أَمْرٌ بِضِدِّهِ.

“Larangan dari melakukan sesuatu adalah perintah untuk melakukan kebalikannya.”

Maknanya yaitu ketika seseorang dilarang tatkala bangun tidur untuk memasukkan tangannya ke dalam bejana sampai dia mencucinya sebanyak tiga kali, maka dalam larangan ini terdapat makna perintah untuk mencuci tangan sebanyak tiga kali tatkala bangun tidur.

Para ulama berbeda pendapat apakah ketika seseorang bangun dari tidur siang juga diperintahkan untuk mencuci kedua tangannya?

Pendapat Al-Imam Asy-Syafi’i dan mayoritas ulama bahwa semua jenis tidur, siang atau malam, disyariatkan bagi seseorang setelah bangun darinya untuk mencuci tangannya berdasarkan keumuman hadis.

إذا استيقظ أحدكم من نومه.

“Apabila salah seorang dari kalian bangun dari tidurnya.”

Adapun lafaz hadis,

فإنه لا يدري أين باتت يده

“Karena sesungguhnya dia tidak mengetahui di mana tangannya tadi bermalam.”

Lafaz bermalam di dalam hadis ini adalah qaidun aghlabi yakni batasan yang menyebutkan secara umum, sehingga tidak diamalkan.

Pendapat yang masyhur dari Al-Imam Ahmad itu khusus ketika tidur malam. Karena lafaz hadis menunjukkan dengan jelas bahwa tidur tersebut dilakukan di malam hari.
Adapun lafaz,

إذا استيقظ أحدكم من نومه.

“Apabila salah seorang dari kalian bangun dari tidurnya.”

Ini adalah lafaz umum, dikhususkan dengan lafaz yang setelahnya.

فإنه لا يدري أين باتت يده

“Karena sesungguhnya dia tidak mengetahui di mana tangannya tadi bermalam.”

Sehingga yang dimaksud dengan tidur tersebut adalah tidur malam. Bahkan, disebutkan dalam riwayat At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dengan lafaz,

إذا استيقظ أحدكم من الليل.

“Apabila salah seorang dari kalian bangun dari tidur malam.”

Oleh karena itu, pendapat yang rajih (kuat) dan menenangkan hati adalah pendapat yang terakhir ini.

Wallahu a’lam.

Oleh: Ustadz Abu Fudhail Abdurrahman ibnu Umar hafizhahullah.


Tetap hadir di majelis ilmu syar’i (tempat pengajian) untuk meraih pahala dan berkah lebih banyak dan lebih besar, insyaallah.”

Ayo Join dan Share:

Faedah:
telegram.me/Riyadhus_Salafiyyin
Poster dan Video:
telegram.me/galerifaedah
Kunjungi Website Kami:
www.riyadhussalafiyyin.com

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Didukung oleh: Islamhariini.com