CINTA MEMBUTUHKAN PERJUANGAN DAN PENGORBANAN


بسم الله الرحمن الرحيم

Saudaraku yang mulia.

Termasuk bagian dari fitrah, tatkala seseorang mencintai kekasihnya yang ia cintai, pasti ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengorbankan segalanya yang ia miliki, bahkan apa yang diinginkan oleh kekasihnya kemugkinan ia akan turuti bagaimanapun resikonya, kecuali yang dirahmati oleh Allah Jalla wa ‘Ala. Subhaanallaah.

Nah, ini berkaitan dengan urusan dunia.

Terlebih dengan urusan akhirat, seyogyanya kita harus lebih dan lebih berkorban, kalau kita mengaku cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, pasalnya karena dalam urusan ini berkaitan dengan penentuan nasib kita di akhirat kelak.

Saudaraku yang mulia.

Tatkala seseorang mengaku beriman dan cinta kepada Allah, maka syaratnya harus adanya pengorbanan disertai pembuktian dengan mengikuti bimbingan baginda Nabi __shallallahu ‘alaihi wa sallam__ yang mulia dalam beragama, Sebagaimana firman Allah Jalla wa ‘Ala dalam tanzil-Nya,

<(( قُلْ إِنْ كُنْتُم تُحِبُّونَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَ يَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّٰهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ ))> [ آل عمران : ٣١ ].

“Katakanlah (wahai Muhammad kepada mereka),’Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian, juga mengampuni dosa-dosa kalian, dan Allah Dzat Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Q.S. Al-‘Imran: 31].

Saudaraku yang mulia.

Ayat di atas disebutkan oleh para ulama salaf dengan istilah:

1. “Aayatul Mihnah” (ayat ujian).

2. “Aayatul Mahabbah” (ayat cinta).

Sebagaimana Fadhilatusy-Syaikh Al-Faqih Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata dalam Syarah Al-‘Aqidah Al-Waasithiyyah (165),

يسمى علماء السلف هذه الآية: آية المحنة؛ يعني الامتحان؛ لأن قوما ادعوا أنهم يحبّون الله فأمر الله نبيّه أن يقول لهم: قُلْ إِنْكُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُونِي

“Para ulama salaf menamakan ayat ini, dengan istilah __aayatul mihnah__, maknanya: ayat ujian, karena suatu kaum mengklaim mereka mencintai Allah, maka Allah perintahkan kepada Nabi-Nya untuk berkata kepada mereka, bahwa ‘Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku …’.” (selesai penukilan).

Saudaraku yang mulia.

Tentunya untuk mengikuti bimbingan baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam beragama tidaklah mudah; tentunya sangat membutuhkan pengorbanan dari segala sisi.

Dan ayat di atas, disebut juga dengan istilah “aayatul mahabbah” (ayat cinta).

Sebagaimana disebutkan oleh asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Aalu Asy-Syaikh rahimahullah, dalam Fathul Majid Syarah Kitaabut-Tauhid (333),

… وهذه تسمى آية المحبّة. قال بعض السلف: ادعى قوم محبة الله، فأنزل الله تعالى آية المحبّة ” قل إن كنتم تحبّون الله فاتبعوني يحببكم الله “.

“Dan ayat ini, diistilahkan dengan sebutan aayatul mahabbah (ayat cinta).

Berkata sebagian ulama salaf, bahwa, “Suatu kaum mengkalim cinta kepada Allah, maka Allah turunkan ayat mahabbah:

‘Katakanlah (wahai Muhammad kepada mereka), jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalain …’ (Q.S. Al-‘Imran: 31 ).” Selesai penukilan.

(Di antara faedah yang bisa kita ambil dari ayat ini adalah:

  1. Tolok ukur seseorang dikatakan benar-benar mencintai Allah ‘Azza wa Jalla adalah dengan ia mengikuti bimbingan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam beragama.
  2. Di antara sekian keutamaan dengan ia mengikuti bimbingan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam beragama adalah:

– Allah akan mencintainya.
– Dan juga mengampuni dosa-dosanya, -pen).
Wallahu a’lam.

والحمد لله ربّ العٰلمين

🖋 Oleh: al-Ustadz Abu Aufa Isma’il حفظه الله

“Tetap hadir di majelis ilmu syar’i (tempat pengajian) untuk meraih pahala dan berkah lebih banyak dan lebih besar, insyaallah.”

Ayo Join dan Share:

Faedah:
telegram.me/Riyadhus_Salafiyyin
Poster dan Video:
telegram.me/galerifaedah
Kunjungi Website Kami:
www.riyadhussalafiyyin.com

Tinggalkan komentar

Didukung oleh: Islamhariini.com