Category: Fiqih

PERBANYAK PUASA DI BULAN SYA’BAN

عن عائشة رضي الله عنها قالت: وما رأيتُ رسول الله صلى الله عليه وسلم استكمل صيام شهر إلا رمضان، وما رأيته أكثر صياماً منه في شعبان
(رواه البخاري ومسلم)

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata,
“Tidaklah aku melihat Rasulullah ﷺ menyempurnakan puasa dalam sebulan kecuali pada bulan Ramadan, dan bulan yang aku melihat beliau lebih banyak puasa adalah bulan Sya’ban.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim) Selengkapnya

HUKUM MEMOTONG RAMBUT BAGI WANITA

🗒️ Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan,

“Hukum wanita memotong rambutnya: (1) sebagian ulama menganggapnya makruh, (2) sebagian yang lain menyatakan haram, dan (3) yang lain lagi berpendapat boleh, maka selama permasalahannya diperselisihkan oleh ulama, kita harus merujuk pada al-Qur’an dan hadis dalam hal ini.

Dan sampai saat ini, aku tidak mengetahui adanya dalil yang menunjukkan hukum haram bagi wanita untuk memotong rambutnya, sehingga hukum asalnya adalah boleh. Dan dikembalikan juga pada adat yang berlaku.

Dahulu, para wanita mengidamkan rambut yang panjang dan berbangga bila memilikinya. Mereka hanya potong bila saat ada keperluan syar’i atau memang saat perlu untuk dipotong. Namun, pandangan semacam ini sudah berubah sekarang.

Pendapat yang mengatakan haram ialah pendapat yang lemah dan tidak memiliki dasar yang benar. Pendapat makruh pun mesti ditinjau dan diperiksa kembali. Sedangkan pendapat boleh, ini lebih dekat pada kebenaran dan lebih sesuai dengan kaidah dan dasar-dasar syariat.

Imam Muslim telah meriwayatkan hadis, bahwa istri-istri Rasulullah ﷺ memotong rambut mereka hingga seukuran wafrah setelah meninggalnya Nabi ﷺ.” (Fatawa Nurun ‘alad-Darb, kaset no. 336)

Dua pendapat di kalangan ahli bahasa Arab tentang makna wafrah. Ada yang mengatakan bahwa wafrah adalah ukuran rambut yang melewati bahu sedikit. Dan yang lain mengatakan bahwa wafrah adalah ukuran rambut yang ujungnya sampai cuping telinga.

BENTUK POTONGAN RAMBUT YANG HARAM BAGI WANITA

🗒️ Asy-Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah melanjutkan,

“Tapi jika dia potong hingga sangat pendek sampai seperti model rambut laki-laki, maka ini jelas haram. Karena Nabi Muhammad ﷺ melaknat wanita-wanita yang menyerupai laki-laki.

Juga diharamkan apabila dia memotong rambut dengan model rambut wanita kafir atau pelacur, karena siapa yang menyerupai mereka dia termasuk golongan mereka.

Tapi jika dipotong biasa saja, yang tidak sampai seperti model rambut laki-laki, dan tidak juga serupa dengan rambut pelacur dan wanita-wanita kafir, maka yang demikian tidak masalah.” (Idem)

🎙Rekaman suara beliau dengan bahasa Arab bisa didengarkan melalui link berikut: http://zadgroup.net/bnothemen/upload/ftawamp3/Lw_336_29.mp3

Semoga bermanfaat.

Oleh: Ustadz Hari Ahadi حفظه الله
➖ ➖ ➖ ➖ ➖
“Tetap hadir di majelis ilmu syar’i (tempat pengajian) untuk meraih pahala dan berkah lebih banyak dan lebih besar, insyaallah.”

Ayo Join dan Share:
➖➖➖➖➖➖➖➖➖
↘️ Faedah:
📚 telegram.me/Riyadhus_Salafiyyin
↘️ Poster dan Video:
🖼 telegram.me/galerifaedah
↘️ Kunjungi Website Kami:
🌏 www.riyadhussalafiyyin.com

APAKAH PAHALA PUASA BERBEDA ANTARA CUACA DINGIN DAN PANAS?

❓Pertanyaan:

Ahsanallahu ilaikum wa baarakallahu fiikum, wahai Fadhilathusy-Syaikh saudari ini bertanya, “Apakah puasa–misalkan–di musim dingin dan di musim panas pahalanya sama? ”

✅ Jawaban:

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah,

“Tidak diragukan bahwa pada ibadah puasa terdapat pahala, sama saja di musim panas atau dingin, dengan diiringi niat orang yang berpuasa dan ikhlas untuk Allah. Namun, jika ia mengalami kepayahan dalam berpuasa seperti haus, lapar, dan cuaca sangat panas, maka pahalanya lebih banyak karena ia bersabar di atas ketaatan dan kepayahan tersebut, sehingga pahalanya lebih banyak.”

📑 Alih bahasa:
Ustadz Abul Abbas Shalih bin Zainal Abidin حفظه الله

[https://goo.gl/MxYPr1]

@Ahkem_almoslima

➖ ➖ ➖ ➖ ➖
“Tetap hadir di majelis ilmu syar’i (tempat pengajian) untuk meraih pahala dan berkah lebih banyak dan lebih besar, insyaallah.”

Ayo Join dan Share:
➖➖➖➖➖➖➖➖➖
↘️ Faedah:
📚 telegram.me/Riyadhus_Salafiyyin
↘️ Poster dan Video:
🖼 telegram.me/galerifaedah
↘️ Kunjungi Website Kami:
🌏 www.riyadhussalafiyyin.com

HUKUM SHALAT DI ATAS KASUR

Pernah, ya, shalat di atas kasur? Mungkin karena keramik lagi dingin-dinginnya, atau mungkin sajadah lagi dicuci? Boleh tidak, sih, sebenarnya shalat di atas kasur dengan alasan-alasan di atas? Mari kita simak jawaban dari asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berikut.

Pertanyaan : “Apakah boleh melaksanakan shalat di atas tempat yang lebih tinggi dari lantai, seperti kasur atau yang semisalnya, dikarenakan dia ragu akan kesucian lantainya. Dalam kondisi dia tidak memiliki uzur karena sakit atau uzur lainnya?”

خـ : لا بأس أن يصلي الإنسان على مكان مرتفع عن الأرض كالسرير و نحوه إذا كان طاهرا، و كان ثابتا لا يحصل منه اهتزاز و خلل على المصلي و تشويش على المصلي ما دام أنه مستقر و أنه طاهر فلا حرج في الصلاة عليه

Jawaban: ❝ Dibolehkan bagi seseorang melaksanakan shalat di atas tempat yang lebih tinggi dari lantai, seperti kasur dan semisalnya, apabila:

tempat tersebut suci,

tidak bergerak-gerak, tidak menyebabkan guncangan,

juga tidak menimbulkan gangguan maupun hal yang mengacaukan orang yang shalat.

Selama tempatnya kokoh dan suci, tidak masalah seseorang melaksanakan shalat di atasnya.❞ (Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Shalih al-Fauzan, no. 288)

Ini dalam kondisi tanpa uzur. Apalagi kalau ada uzur, tentunya lebih diperbolehkan lagi. Tapi jangan lupa dengan ketentuan-ketentuan yang beliau bawakan di atas, ya. Semoga bermanfaat.

(Oleh: Ustadz Hari Ahadi حفظه الله)
➖ ➖ ➖ ➖ ➖
“Tetap hadir di majelis ilmu syar’i (tempat pengajian) untuk meraih pahala dan berkah lebih banyak dan lebih besar, insyaallah.”

Ayo Join dan Share:
Faedah:
telegram.me/Riyadhus_Salafiyyin
Poster dan Video:
telegram.me/galerifaedah
Kunjungi Website Kami:
www.riyadhussalafiyyin.com

WAKTU YANG AFDAL BAGI MAKMUM UNTUK SALAM

Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan,

والأولى للمأموم أن يسلم عقب فراغ الإمام من التسليمتين، فإن سلم بعد تسليمته الأولى جاز عند من يقول: إن الثانية غير واجبةٍ؛ لأنه يرى أن الإمام قد خرج من الصلاة بتسليمته الأولى، ولم يجز عند من يرى أن الثانية واجبةٌ، لا يخرج من الصلاة بدونها

“Yang utama, makmum salam setelah imam menyelesaikan salam yang kedua.

Jika dia langsung salam setelah salam pertama imam, hukumnya sah menurut ulama yang berpendapat bahwa salam kedua tidak wajib.

Sebab menurut pendapat ini, imam telah selesai dari shalatnya dengan satu salam yang dilakukan.

Namun yang seperti ini tidak boleh dilakukan menurut pendapat yang mengatakan bahwa salam kedua juga wajib, yang mana imam belum keluar dari shalat tanpa salam yang kedua.” (Fathul Bari, VII/381)

Menjadi jelas dari uraian di atas, bahwa yang lebih selamat ialah makmum salam setelah imam menyelesaikan salam keduanya.

(Oleh: Ustadz Hari Ahadi حفظه الله)

“Tetap hadir di majelis ilmu syar’i (tempat pengajian) untuk meraih pahala dan berkah lebih banyak dan lebih besar, insyaallah.”

Ayo Join dan Share:

Faedah:
telegram.me/Riyadhus_Salafiyyin
Poster dan Video:
telegram.me/galerifaedah
Kunjungi Website Kami:
www.riyadhussalafiyyin.com

Didukung oleh: Islamhariini.com